Tiga Pejabat Bank Mandiri Jadi Tersangka

JAKARTA-Kejaksaan Agung menetapkan tiga pejabat Bank Mandiri dalam kasus dugaan korupsi pembobolan kredit PT Bank Mandiri (Persero) Commercial Banking Center Cabang Bandung kepada PT. Tirta Amarta Bottling Company (TAB) senilai Rp.1,47 triliun. Adapun tiga tersangka itu yakni Surya Baruna Semenguk (SBS) selaku Komersial Banking Manajer, Frans Eduard Zandra (FEZ) selaku Relationship Manager dan Teguh Kartika Wibowo (TKW) selaku Senior Kredit Risk Manajer.

Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus), Adi Toegarisman mengatakan, penetapan ketiga tersangka baru tersebut berdasarkan hasil pengembangan dari penyidikan satu tersangka sebelumnya.

“Telah ditetapkan 3 orang tersangka berinisial SBS, FEZ, dan TKW,” ujarnya di Kejaksaan Agung, kemarin.

Adi mengatakan, tiga tersangka itu merupakan pengusul dalam pengajuan kredit di bank tersebut.

“Jadi yang bersangkutan diduga telah melakukan penyalahgunaan wewenang pemberian kridit dan penambah kredit,” ujar Adi.

Menyinggung soal kerugian negara yang mencapai Rp 1,4 Triliun lebih itu, menurut Adi berdasarkan hasil perhitungan dari audit independen.

“Audit dari independen, karena semua jumlah hutang itu dihitung dari utang pokok dan bunga,” jawabnya.

Adi mengatakan, penetapan tiga orang tersebut sebagai tersangka merupakan pengembangan penyidikan dan pemeriksaan terhadap tersangka dalam kasus yang sama yakni, Direktur PT TAB, Rony Tedy  selaku pemohon kredit modal kerja (KMK), kredit investasi, deposito, dan letter of credit (LC) PT TAB kepada PT Bank Mandiri (persero), Tbk Commercial Banking Center Cabang Bandung tahun 2015.

Seperti diberitakan, kasus ini berawal pada 15 Juni 2015, berdasarkan Surat Nomor: 08/TABco/VI/205 Direktur PT TAB mengajukan perpanjangan dan tambahan fasilitas kredit kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Commercial Banking Center Bandung.

Perpanjangan seluruh fasilitas Kredit Modal Kerja (KMK) sebesar Rp880.600.000.000, perpanjangan dan tambahan plafond LC sebesar Rp.40 miliar sehingga total plafond LC menjadi Rp.50 miliar. Selain itu juga fasilitas Kredit Investasi (KI) sebesar Rp250 miliar selama 72 bulan.

Dalam dokumen pendukung permohonan perpanjangan dan tambahan fasilitas kredit terdapat data aset PT TAB yang tidak benar dengan cara dibesarkan dari aset yang nyata.

Sehingga berdasarkan Nota Analisa pemutus kredit Nomor CMG.BD1/0110/2015 tanggal 30 Juni 2015 seolah-olah kondisi keuangan debitur menunjukkan perkembangan.

Dari situ perusahaan tersebut dapat memperoleh perpanjangan dan tambahan fasilitas kredit pada 2015 sebesar Rp1,170 triliun.

Selain itu, debitur PT TAB juga telah menggunakan uang fasilitas kredit antara lain sebesar Rp73 miliar, yang semestinya hanya untuk kepentingan KI dan KMK, tapi untuk keperluan yang dilarang untuk perjanjian kredit.(Jul)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *