Dua Pegawai Pertamina Kasus Korupsi Blok BMG Australia, Diperiksa Kejagung

JAKARTA – Dua pegawai PT. Pertamina (Persero) menjalani pemeriksaan sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi penyalahgunaan investasi di Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia oleh Pertamina pada 2009 di Kejaksaan Agung.

“Kedua saksi yakni Evita Maryanti dan Wahyudi Satoto, Wakil Ketua I Tim Pengembangan Perencanaan Portofolio Usaha Hulu (TP3UH),” ujar Kepala Pusat Penerangan dan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, M. Rum, Selasa (27/2).

Dari hasil pemeriksaan, Evita menerangkan terkait dengan proses analisa kandungan minyak di Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia.

“Sedangkan Wahyudi Satoto menerangkan mengenai proses persentasi oleh Merger and Acquisition kepada Tim Pengembangan Perencanaan Portofolio Usaha Hulu,” terang Rum.

Dalam kasus ini, Kejagung telah memeriksa 66 orang saksi, termasuk mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen Agustiawan dan mantan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan sebagai saksi.

Kejagung juga telah menetapkan mantan Manager Merger and Acquisition Direktorat Hulu PT Pertamina (Persero), berinsial BK sebagai tersangka.

Kasus itu bermula PT Pertamina (Persero) pada tahun 2009 melalui anak perusahaannya PT Pertamina Hulu Energi (PHE) melakukan akuisisi saham sebesar 10 persen terhadap ROC Oil Ltd.

Perjanjian jual beli ditandatangani pada tanggal 1 Mei 2009 dengan modal sebesar 66,2 juta dolar Australia atau senilai Rp568 Miliar dengan asumsi mendapatkan 812 barel per hari.

Namun, ternyata Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia pada tahun 2009 hanya dapat menghasilkan minyak mentah untuk PHE Australia Pty.Ltd rata-rata sebesar 252 barel per hari.

Pada 5 November 2010, Blok BMG Australia dinyatakan ditutup setelah ROC Oil Ltd, Beach Petrolium, Sojits, dan Cieco Energy memutuskan penghentian produksi minyak mentah (non production phase/ npp) dengan alasan lapangan tidak ekonomis.(Jul)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *